MAKALAH KEUANGAN : FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA SAHAM



Saham (stock) adalah salah satu alternatif investasi yang dapat menghasilkan keuntungan dalam bentuk dividen dan capital gain. Apabila seorang investor membeli saham, maka menjadi pemilik dan disebut sebagai pemegang saham (shareholders) perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Menurut BAPEPAM (2003: 9) dikutip dari (www.bapepam.go.id), ”saham adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan suatu perusahaan, dan pemegang saham memiliki hak klaim atas penghasilan dan aktiva perusahaan”. Menurut Darmadji dan Fakhrudin (2006: 6), Saham (stock atau share) adalah tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa saham\ merupakan sertifikat atau tanda bukti kepemilikan yang menunjukkan kepemilikan suatu perusahaan dan pemiliknya disebut pemegang saham (shareholders) yang berhak untuk memiliki hak klaim atas penghasilan aktiva suatu perusahaan.



 Jenis - Jenis Saham


Dalam transaksi jual-beli di Bursa Efek, saham atau sering pula disebut shares atau stock merupakan instrumen yang paling dominan diperdagangkan. Menurut Darmadji dan Fakhrudin (2006: 6), ada beberapa sudut pandang untuk membedakan saham, yaitu:

a. Dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim, maka saham terbagi atas :

1) Saham biasa (Common stocks)


Saham biasa merupakan salah satu komoditas pasar modal yang paling populer. Saham biasa lebih umum disebut dengan saham saja. Beberapa karakteristik saham biasa:

a) Dividen dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba.

b) Memiliki hak suara dalam rapat umum pemegang saham (one share one vote).

c) Memiliki hak terakhir (junior) dalam hal pembagian kekayaan perusahaan jika perusahaan tersebut dilikuidasi (dibubarkan) setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.

d) Memiliki tanggung jawab terbatas terhadap klaim pihak lain sebesar proporsi sahamnya.

e) Hak untuk mengalihkan kepemilikan sahamnya.

2) Saham preferen (Preferred stocks)


Beberapa karakteristik saham preferen:

a) Memiliki hak lebih dulu dalam memperoleh dividen.

b) Dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam pencalonan pengurus perusahaan.

c) Memiliki hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham lebih dahulu setelah kreditor, apabila perusahaan tersebut dilikuidasi (dibubarkan atau bangkrut).

d) Kemungkinan dapat memperoleh tambahan dari pembagian laba perusahaan di samping penghasilan yang diterima secara tetap.

e) Apabila perusahaan dilikuidasi, memiliki hak memperoleh pembagian kekayaan perusahaan di atas pemegang saham biasa setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi. Suatu saham preferen disukai atau diminati oleh penerbitnya karena 2 (dua) hal, yaitu :

(1) Sebagai saham, saham preferen tidak termasuk saham biasa, oleh sebab itu tidak masuk dalam perhitungan Earnings Per Share.

(2) Sebagai ekuitas, saham preferen bukan ekuitas hutang (debt equity) sehingga tidak menambah beban hutang perusahaan. Selain memiliki keuntungan bagi penerbitnya, saham preferen juga memberikan keuntungan bagi investor. Investor yang memiliki saham preferen mempunyai keuntungan - keuntungan sebagai berikut :

(a) Tingkat dividen tahunan

(b) Lebih aman daripada saham biasa karena memiliki hak klaim terhadap kekayaan perusahaan dan pembagian dividen terlebih dahulu.

(c) Hak memberikan suara

(d) Keuntungan dari capital gain, yaitu merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Selain memiliki keuntungan-keuntungan bagi investor, saham preferen juga memiliki kelemahan atau kerugian diantaranya, yaitu :

(a) Dibanding dengan investasi dalam bentuk pinjaman/utang, saham preferen kurang aman karena dividen secara hokum bukan kewajiban.

(b) Pembayaran dividen secara tetap sulit dinaikkan.

(c) Tidak memiliki waktu jatuh tempo.

(d) Sulit diperjualbelikan dibanding saham biasa karena biasanya jumlah saham preferen yang beredar jauh lebih sedikit.

(e) Pada saat perusahaan dilikuidasi yang dibayarkan hanyalah nilai nominalnya.

b. Dari cara peralihannya saham dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :


1) Saham atas unjuk (Bearer stocks)

Yaitu pada saham tersebut tidak tertulis nama pemiliknya, agar mudah dipindahtangankan dari satu investor ke investor lainnya. Secara hukum, siapa yang memegang saham tersebut, maka diakui sebagai pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam RUPS.

2) Saham atas nama (Registered stocks)

Yaitu saham yang ditulis dengan jelas siapa nama pemiliknya, di mana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu, yaitu dengan dokumen peralihan dan kemudian nama pemiliknya dicatat dalam buku perusahaan yang khusus memuat nama pemegang saham. Apabila sertifikat ini hilang, maka pemilik dapat meminta penggantian.

c. Dari kinerja perdagangan maka saham dapat dikategorikan sebagai berikut :


1) Blue-Chip stocks

Yaitu saham biasa dari suatu perusahaan yang memiliki reputasi tinggi, sebagai leader di industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar dividen.

2) Income stocks

Yaitu saham dari suatu emiten yang memiliki kemampuan membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan pada tahun sebelumnya. Emiten seperti ini biasanya mampu menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan secara teratur membagikan dividen tunai. Emiten ini tidak suka menekan laba dan tidak mementingkan potensi pertumbuhan harga saham.

3) Growth stocks (well-known)

Yaitu saham - saham dari emiten yang memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi, sebagai leader di industri sejenis yang mempunyai reputasi tinggi. Selain itu terdapat juga growth stock

(lesser-known), yaitu saham dari emiten yang tidak sebagai leader dalam industri namun memiliki ciri growth stock. Umumnya saham ini berasal dari daerah dan kurang populer di kalangan emiten.

4) Speculative stocks

Yaitu saham suatu perusahaan yang tidak bisa secara konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun, akan tetapi mempunyai kemungkinan penghasilan yang tinggi di masa mendatang meskipun belum pasti.

5) Counter Cyclical stocks

Yaitu saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum. Pada saat resesi ekonomi, harga saham ini tetap tinggi, di mana emitennya mampu memberikan dividen yang tinggi sebagai akibat dari kemampuan emiten dalam memperoleh penghasilan yang tinggi pada masa resesi. Emiten seperti ini biasanya bergerak dalam produk yang sangat dibutuhkan masyarakat seperti rokok dan consumer goods.

Menurut Martono dan Agus Harjito (2007; 367 - 368), saham dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :

a. Berdasarkan cara pengalihannya ada 2 (dua), yaitu :

1) Saham atas unjuk (Bearer stock)

Saham atas unjuk, seorang pemilik sangat mudah untuk mengalihkan atau memindahkannya kepada orang lain karena sifatnya mirip uang. Pemilik saham atas unjuk ini harus berhati-hati membawa dan menyimpannya. Karena jika saham tersebut hilang, maka pemilik tidak dapat meminta gantinya.

2) Saham atas nama (Registered stock)

Di sertifikat saham dituliskan nama pemiliknya. Cara peralihan dengan dokumen peralihan dan kemudian nama pemiliknya dicatat dalam buku perusahaan yang khusus memuat daftar nama pemegang saham. Jika saham tersebut hilang, pemilk dapat meminta gantinya.

b. Berdasarkan manfaatnya ada 2 (dua), yaitu :

1) Saham biasa

Saham biasa selalu ada dalam struktur modal saham. Jenis – jenis saham biasa antara lain: saham unggulan, saham biasa yang tumbuh, saham biasa yang stabil, dan lain-lain.

2) Saham preferen (Preferred stock)

Saham preferen terdiri beberapa jenis, antara lain; saham preferen kumulatif, saham preferen bukan kumulatif, dan lain-lain. Dari beberapa jenis saham di atas, dapat disimpulkan bahwa jenis -jenis saham yang sudah digolongkan tersebut, didasarkan dari sudut pandang seorang investor dalam menentukan saham mana yang menurutnya baik dalam menentukan investasi di masa mendatang yang dapat menghasilkan keuntungan sesuai dengan harapan investor tersebut.

3 Harga Saham

2.2.2.3.1 Pengertian Harga Saham

Seorang investor yang ingin menginvestasikan dananya di pasar modal yang berupa saham, investor tersebut harus terlebih dahulu mengetahui harga saham dalam menentukan pembelian pada suatu perusahaan. Selembar saham mempunyai nilai atau harga dimana suatu harga saham dapat dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu:

a. Harga Nominal

Harga yang tercantum dalam sertifikat saham yang ditetapkan oieh emiten untuk menilai setiap lembar saham yang dikeluarkan. Besarnya harga nominal memberikan arti penting saham karena deviden minimal biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.

b. Harga Perdana

Harga perdana merupakan harga pada waktu harga saham tersebut dicatat di bursa efek. Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan oleh penjamin emisi (underwriter) dan emiten. Dengan demikian akan diketahui berapa harga saham emiten itu akan dijual kepada masyarakat biasanya untuk menentukan harga perdana.

c. Harga Pasar

Kalau harga perdana merupakan harga jual dari perjanjian emisi kepada investor, maka harga pasar adalah harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain. Harga pasar terjadi setelah saham tersebut dicatatkan di bursa. Dan transaksi tidak lagi melibatkan emiten dari penjamin emisi harga ini yang disebut sebagai harga di pasar sekunder dan harga inilah yang benar - benar mewakili harga perusahaan penerbitnya karena pada transaksi di pasar sekunder jarang terjadi negosiasi harga investor dengan perusahaan penerbit. Harga yang setiap hari diumumkan di surat kabar atau media lain adalah harga pasar. Menurut Undang - Undang No. 8 tahun 1995 dikutip dari (www.bapepam.go.id) : Harga pasar saham adalah harga suatu saham yang sedang berlangsung dalam suatu pasar modal. Jika bursa tutup maka harga pasarnya adalah

terbesar pada saat penutupan (closing price). Menurut Halim (2005: 20), harga pasar saham adalah harga yang

terbentuk di pasar jual beli saham. Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa harga

saham terbentuk di pasar jual beli saham karena akibat dari transaksi jual beli yang terjadi antara investor tersebut dan apabila harga pasar Bursa Efek ditutup maka harga pasar adalah harga penutupannya (closing price) dan apabila harga pasar ini dikalikan dengan jumlah saham yang

diterbitkan (outstanding share), maka akan didapatkan nilai pasar (market value). Namun investor juga perlu mengetahui dan memahami harga nominal, harga perdana, dan harga pasar dalam pengambilan keputusan investasi saham karena akan membantu investor untuk mengetahui saham mana yang bertumbuh dan murah.

3.2 Pendekatan Penilaian Harga Saham


Investor dalam melakukan keputusan investasi di pasar modal memerlukan informasi tentang penilaian saham. Dimana analisis saham bertujuan untuk menaksir nilai intrinsik (intrinsic value) suatu saham dan kemudian membandingkannya dengan harga pasar saham tersebut pada saat ini (current market price). Nilai intrinsik (NI) suatu saham menunjukkan present value arus kas yang diharapkan dari saham tersebut. Pedoman yang digunakan adalah sebagai berikut :

a. Apabila NI > harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai undervalued (harganya terlalu rendah), oleh karena itu layak dibeli atau ditahan apabila saham tersebut telah dimiliki.

b. Apabila NI < harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai overvalued (harganya terlalu tinggi), maka layak dijual.

c. Apabila NI = harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai wajar harganya dan berada dalam kondisi keseimbangan. Model penilaian merupakan suatu mekanisme untuk mengubah serangkaian variabel ekonomi atau variabel perusahaan yang diramalkan (diamati) menjadi dasar perkiraan harga saham.

Menurut Halim (2005: 5), salah satu penilaian harga saham adalah untuk mengidentifikasi efek yang salah satu dari harga, apakah harganya terlalu tinggi atau rendah. Oleh karena itu ada 2 (dua) pendekatan penilaian saham yang dapat digunakan, yaitu :



1) Pendekatan Fundamental

Pendekatan ini didasarkan pada informasi - informasi yang diterbitkan oleh emiten maupun oleh administrator bursa efek. Karena kinerja emiten dipengaruhi oleh kondisi sektor industry dimana perusahaan tersebut berada dan perekonomian secara makro, maka untuk memperkirakan prospek harga sahamnya di masa mendatang harus dikaitkan dengan faktor - faktor fundamental yang mempengaruhinya. Jadi, analisis ini dimulai dari siklus usaha perusahaan secara umum, selanjutnya ke sektor industri dan akhirnya dilakukan evaluasi terhadap kinerja dan saham yang diterbitkan.

2) Pendekatan Teknikal

Pendekatan ini didasarkan pada data (perubahan) harga saham masa lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga saham di masa mendatang. Dalam pendekatan ini harga saham tergantung pada permintaan dan penawaran saham itu sendiri. Menurut Anoraga (2006: 108), teknik analisis investasi yang paling banyak digunakan, yaitu :

1) Analisis Fundamental, yaitu analisis yang berhubungan dengan kondisi keuangan perusahaan yang menyangkut data - data historis perusahaan. Karena umumnya harga saham sangat bergantung pada kinerja perusahaan yang bersangkutan.

2) Analisis Teknikal, yaitu analisis yang menggunakan data - data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu dengan mengabaikan hal – hal yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan.

3) Analisis Ekonomi, yaitu analisis yang menggunakan berbagai indikator yang berkaitan dengan kondisi perekonomian, seperti pengenaan pajak, tingkat kesejahteraan masyarakat dan variable ekonomi lainnya.

4) Analisis Rasio Keuangan, yaitu analisis yang didasarkan pada hubungan antar pos dalam laporan keuangan perusahaan yang akan mencerminkan keadaan keuangan serta hasil dari operasional perusahaan. Fuller (1987) dalam Harahap dan Pasaribu (2007), Mengatakan bahwa dengan pendekatan fundamental, setiap sekuritas mempunyai nilai instrinsik yang dapat ditentukan berdasarkan fundamental perusahaan, misalnya; laba, deviden, struktur modal, ratio dan potensi pertumbuhan perusahaan. Berdasarkan definisi beberapa pendekatan penilaian harga saham di atas, dapat disimpulkan bahwa penilaian ini hanya tertuju pada pendekatan fundamental perusahaan. Karena pendekatan fundamental secara terperinci lebih memfokuskan pada laporan keuangan perusahaan yang tujuannya untuk mengetahui perbedaan harga pasar sekuritas dengan nilai intrinsiknya. Apabila seseorang investor telah melakukan penilaian harga saham berdasarkan fundamentalnya, maka hal itu berarti investor tersebut telah menentukan keputusan untuk membeli dan atau menjual sahamnya dengan baik. Sebab tanpa melalui nilai - nilai fundamental perusahaan, seseorang akan terjebak dalam kegiatan spekulasi\ perdaganga saham yang hanya mengandalkan keberuntungan yang tidak pasti. Meskipun dalam pendekatan secara fundamental membutuhkan waktu yang cukup lama dalam memprediksikan suatu perusahaan tetapi hasilnya akan berdampak pada prospek perusahaan dalam jangka waktu yang panjang karena nilai fundamental mencerminkan nilai perusahaan yang sebenarnya.

3.3 Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham


Menurut Harjito (2009: 85), naik turunnya harga saham dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun eksternal perusahaan. Faktor internal lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi fundamental perusahaan, sedangkan faktor eksternal sebagian disebabkan oleh informasi yang diperoleh pasar. Dalam hal ini faktor yang mempengaruhi harga saham dibedakan atas faktor internal dan faktor eksternal, yaitu sebagai berikut:

a. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang berkaitan langsung dengan kinerja atau kondisi suatu perusahaan. Dimana kinerja atau kondisi suatu perusahaan dilihat dari data - data laporan keuangan selama perusahaan melakukan kegiatan operasi perusahaan. Laporan keuangan perusahaan akan menjadi tolak ukur investor untuk mengetahui seberapa besar resiko yang akan ditanggungnya dan keuntungan yang didapat. Karena dengan melihat laporan keuangan dapat mengetahui perusahaan itu dalam kinerja yang baik atau buruk. Oleh karena itu, dengan semakin besarnya kinerja dalam suatu perusahaan maka berpengaruh terhadap kenaikan harga saham dan sebaliknya.

b. Faktor Eksternal

Faktor ekstenal adalah faktor yang tidak berkaitan langsung dengan kondisi perusahaan tetapi dari faktor - faktor dari luar perusahaan, yaitu sebagai berikut:

1) Tingkat Suku Bunga

Faktor suku bunga sangat penting, karena rata - rata semua orang selalu mengharapkan hasil investasi yang lebih besar termasuk investor saham. Dengan adanya perubahan suku bunga maka tingkat pengembalian hasil berbagai sarana investasi akan mengalami perubahan. Suku bunga ini adalah suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) selaku Bank Sentral dengan mengeluarkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Dan langkah Bank Indonesia untuk menaikkan dan menurunkan suku bunga SBI merupakan bagian dari kebijakan moneter untuk mengawasi perekonomian nasional, Dimana dengan menaikkan suku bunga SBI tersebut, maka akan menyebabkan suku bunga di pasar uang akan naik dan investor cenderung akan memindahkan dananya ke pasar modal atau sebaliknya. Hal tersebut yang menyebabkan harga suatu saham dapat naik atau turun yang pada akhirnya akan menyebabkan harga saham secara keseluruhan terpengaruh.

2) Hukum Permintaan dan Penawaran

Dimana pergerakan harga saham sangat berpengaruh apabila permintaan terhadap saham meningkat dan penawaran yang terbatas akan menyebabkan suatu harga saham menjadi naik atau sebaliknya.

3) News dan Rumors

Dimana akibat dari berbagai berita dan informasi yang beredar di masyarakat yang menyangkut berbagai masalah ekonomi, sosial, politik, dan keamanan suatu negara sehingga menyebabkan investor kemungkinan melakukan tindakan menjual atau membeli saham yang akan berdampak pada harga saham secara keseluruhan.

4) Indeks Harga Saham

Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang waktu tentunya menandakan kondisi investasi dan perekonomian negara dalam keadaan baik. Sebaliknya, jika turun berarti iklim investasi sedang buruk. Sehingga kondisi demikian akan mempengaruhi naik atau turunnya harga saham di pasar bursa.



5) Valuta Asing

Dengan adanya kenaikan suku bunga dalam valuta asing, maka mata uang khususnya dollar AS akan berpengaruh. Hal ini mengakibatkan banyak investor cenderung menjual saham yang dimilikinya dan investor beralih memilih investasi ke valuta asing (valas). Dengan tindakan yang dilakukan oleh para investor ini akan mengakibatkan implikasi yang negatif terhadap harga saham di pasar. Dari faktor - faktor yang mempengaruhi harga saham yang telah dijelaskan di atas, dalam penelitian ini hanya difokuskan pada factor internal perusahaan. Dimana faktor internal merupakan fundamental perusahaan yang menganalisa kinerja dan kondisi keuangan dan ekonomi perusahaan yang menerbitkan saham tersebut dan menjadi pertimbangan

utama dalam menanamkan investasi saham. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang mempengaruhi aktivitas pasar modal yang berasal dari kinerja ekonomi secara agregat, seperti tingkat suku bunga, hokum permintaan dan penawaran, news dan rumors, indeks harga saham, valuta asing, dan sebagainya

2.2.3 Faktor - Faktor Fundamental Perusahaan


Menurut Arifin (2004: 116), faktor fundamental adalah “faktor - faktor yang mencerminkan kinerja emiten yang dapat dilihat dari laporan keuangan emiten tersebut”. Semakin baik kinerja emiten maka semakin besar pula pengaruhnya terhadap kenaikan harga saham dan demikian sebaliknya, apabila semakin buruknya kinerja emiten maka semakin turunnya harga saham yang

diterbitkan dan diperdagangkan pada perusahaan tersebut. Karena kinerja emiten menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba sehingga hal tersebut dapat menumbuhkan kepercayaan investor dalam menanamkan modalnya. Menurut Stoner et al. (1995) dalam Anastasia (2000), analisis fundamental berkaitan dengan penilaian kinerja perusahaan, tentang efektifitas dan efisiensi perusahaan mencapai sasarannya. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor – factor fundamental perusahaan mencerminkan kinerja suatu emiten, tentang efektifitas dan efisiensi perusahaan dalam mencapai sasarannya dimana hal

tersebut dapat terlihat dari laporan keuangan suatu perusahaan yang diterbitkan atau dipublikasikan setiap per triwulan, per kuartal, per semester dan per tahun (akhir periode).

Dalam sub bab selanjutnya, penelitian ini akan menjelaskan faktor - faktor fundamental perusahaan yang hanya mencakup ruang lingkup laporan keuangan saja yang digunakan untuk menganalisis harga saham, yaitu diwakili oleh : pertumbuhan penjualan (growth sales), penjualan / aktiva lancar (sales to current assets), saldo laba / total aktiva (retained earnings to

total assets), sebagai berikut :

2.2.3.1 Pertumbuhan Penjualan (Growth Sales)

Pertumbuhan merupakan elemen yang terjadi dalam siklus suatu perusahaan dan ukuran pertumbuhan dalam perusahaan tergantung dari kegiatan perusahaan. Pertumbuhan dalam manajemen keuangan pada umumnya menunjukkan peningkatan ukuran skala suatu perusahaan.

Biasanya dalam mengukur pertumbuhan dilakukan dengan menghitung input atau outputnya, yaitu dengan menggunakan ukuran fisik perusahaan, seperti luas tanah, gedung, peralatan kantor dan aktiva tetap lainnya. Namun dalam mengukur pertumbuhan perusahaan yang menggunakan ukuran fisik perusahaan sulit untuk dibandingkan dengan perusahaan lain. Oleh karena itu, pertumbuhan penjualan dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan penjualan dari satu periode ke periode berikutnya. Dengan semakin cepat tingkat pertumbuhan suatu perusahaan makin besar pula dana yang dibutuhkan untuk membiayai pertumbuhan perusahaan tersebut. Oleh sebab itu, pertumbuhan penjualan sangat diinginkan setiap perusahaan karena pertumbuhan penjualan mencerminkan suatu pertumbuhan suatu perusahaan.

Menurut Fabozzi (2000: 881), Pertumbuhan penjualan adalah perubahan penjualan pada laporan keuangan per tahun. Pertumbuhan berkaitan dengan bagaimana terjadinya stabilitas peningkatan penjualan ke depan. Pertumbuhan penjualan yang di atas rata - rata bagi suatu

perusahaan pada umumnya didasarkan pada pertumbuhan cepat yang diharapkan dan industri dimana perusahaan beroperasi.

Menurut Horne (2001: 39) dalam Tarigan dan Siregar (2009),

Perusahaan dengan penjualan yang relatif stabil dapat lebih aman memperoleh lebih banyak pinjaman dan menanggung beban yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya tidak stabil.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan penjualan merupakan perubahan penjualan akibat terjadinya stabilitas peningkatan penjualan dari tahun ke tahun. Apabila pertumbuhan penjualan suatu perusahaan dari tahun ke tahun meningkat atau stabil, maka para

investor percaya terhadap perusahaan bahwa akan memberikan keuntungan di masa depan.

2.2.3.2 Penjualan / Aktiva Lancar (Sales to Current Assets)

Penjualan / aktiva lancar (Sales to Current Assets) adalah mengukur seberapa efisien suatu perusahaan memanfaatkan aktiva lancarnya dalam menghasilkan penjualan (Tampubolon, 2005: 35).

Rasio ini paling berlaku dalam perusahaan industri, dimana perusahaan tersebut memegang mayoritas persediaan mereka sendiri. Dan juga dapat digunakan untuk mendeteksi perusahaan apabila akan mengalami suatu kebangkrutan. Penelitian yang telah dilakukan Sandi (2007), membuktikan bahwa penjualan / aktiva lancar (SALCA) tidak bermasalah terhadap perusahaan

karena terlihat dari kemampuan perusahaan atas aset lancar selalu mengalami fluktuasi. Dan penelitian yang dilakukan oleh Asmara (2002), bahwa salah satu variabel yang digunakannya adalah sales to current assets (SALCA), menunjukkan pengaruh positif tehadap kinerja keuangan sebelum krisis moneter tahun 1998, sedangkan untuk periode setelah krisis tahun 1998 tidak ada pengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Hal tersebut membuktikan bahwa dengan menggunakan sales to current assets dapat mendeteksi resiko akan mengalami suatu penurunan atau bahkan kemungkinan bangkrutnya suatu perusahaan. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa rasio penjualan / aktiva lancar (sales to current assets) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa efisien penggunaan dana perusahaan yang dikeluarkan pada aktiva lancarnya dalam menghasilkan suatu penjualan dan dapat mendeteksi suatu kemungkinan penurunan atau bangkrutnya suatu perusahaan.

2.2.3.3 Saldo Laba / Total Aktiva (Retained Earnings to Total Assets)

Menurut Sawir (2005: 23), rasio laba ditahan / total aktiva adalah mengukur kemampulabaan kumulatif perusahaan, karena semakin muda perusahaan, semakin sedikit waktu yang dimilikinya untuk membangun laba kumulatif. Saldo laba / total aktiva (RETA), menunjukkan pertumbuhan yang telah dibiayai melalui keuntungan sehingga hutang perusahaan tidak meningkat dan menunjukkan sejauh mana aktiva telah dibayar oleh keuntungan perusahaan. Saldo laba (retained earnings) mencerminkan akumulasi keuntungan yang belum didistribusikan atau kerugian yang dialami suatu perusahaan sejak perusahaan tersebut beroperasi. Sebuah perusahaan baru relative mungkin akan menunjukkan rasio saldo laba / total aktiva yang rendah

karena tidak adanya waktu untuk menambah laba kumulatifnya. Oleh karena itu, dapat dibuktikan bahwa perusahaan baru akan terlihat berbeda dari perusahaan yang sudah lama beroperasi dan dapat diklasifikasikan dalam golongan bangkrut relatif lebih tinggi dari pada

perusahaan - perusahaan yang sudah lama berdiri. Dengan menggunakan rasio saldo laba / total aktiva (RETA) ini juga dapat memprediksi kemungkinan terjadinya kebangkrutan pada perusahaan. Bila perusahaan mulai merugi atau bangkrut, tentu saja nilai dari total laba mulai turun. Dan bagi banyak perusahaan, nilai saldo laba dari rasio ini akan menjadi negatif.

Menurut Mulyono (1994) dalam Fakhrurozie (2007), retained earnings / total assets adalah rasio profitabilitas yang dapat mendeteksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan, yang ditinjau dari kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba dibandingkan dengan kecepatan perputaran operating assets sebagai ukuran efisiensi usaha. Dari pengertian penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa rasio saldo laba / total aktiva (retained earnings to total asset) merupakan rasio yang dapat mengukur sejauh mana aktiva telah dibayar oleh keuntungan perusahaan dan profitabilitas kumulatif suatu perusahaan, serta dapat mencerminkan umur suatu perusahaan, karena semakin muda perusahaan, semakin sedikit waktu yang dimilikinya untuk membangun laba kumulatifnya.

2.2.4 Pengembangan Hipotesis

2.2.4.1 Pengaruh Pertumbuhan Penjualan (Growth Sales) Terhadap Harga Saham


Pertumbuhan penjualan mencerminkan prospek perusahaan dan profitabilitas perusahaan di masa depan. Apabila profitabilitas perusahaan meningkat, maka pertumbuhan penjualan pun ikut meningkat dan kinerja perusahaan semakin baik. Karena dengan semakin meningkatnya profitabilitas perusahaan, semakin meningkat pula laba suatu penjualan yang dapat mendorong peningkatan pertumbuhan penjualan dari tahun ke tahun sehingga harga saham kemungkinan akan naik karena pada dasarnya harga saham dipengaruhi oleh profitabilitas di masa yang akan datang. Oleh karena itu, dengan meningkatnya pertumbuhan penjualan para investor tertarik untuk membeli saham tersebut sehingga harga saham akan terus meningkat. Menurut Yuniningsih (2002), untuk meningkatkan nilai perusahaan, disamping membuat kebijakan deviden, perusahaan juga dituntut untuk tumbuh. Pertumbuhan dapat diwujudkan dengan menggunakan kesempatan investasi sebaik - baiknya. Penelitian atas pengaruh pertumbuhan penjualan terhadap harga saham dilakukan oleh Sulistiono (1994) dalam Natarsyah (2000), telah menemukan bahwa pertumbuhan penjualan berpengaruh positif terhadap harga saham. Dan penelitian Azis (2005), menyatakan bahwa pertumbuhan penjualan dan EPS berpengaruh secara simultan terhadap harga saham.

2.2.4.2 Pengaruh Penjualan / Aktiva Lancar (SALCA) Terhadap Harga Saham

Tingkat efisiensi yang dihasilkan dari penjualan terhadap aktiva lancar menimbulkan suatu persepsi bagi para investor bahwa perusahaan Tersebut mampu memanfaatkan aktiva lancarnya dalam menghasilkan suatu penjualan. Oleh karena itu, apabila suatu perusahaan dapat memanfaatkan aktivanya sebaik mungkin maka akan berpengaruh kepada investor dalam mempertimbangkan investasi dengan membeli saham di perusahaan tersebut sehingga harga saham akan terus meningkat. Hal tersebut telah dibuktikan oleh hasil penelitian Pasaribu (2008), menunjukkan bahwa penjualan / aktiva lancar (SALCA) berpengaruh dominan terhadap harga saham pada industri pertanian.

2.2.4.3 Pengaruh Saldo Laba / Total Aktiva (RETA) Terhadap Harga Saham


Sejauh mana pihak manajemen mampu mengelola saldo laba (retained earnings) perusahaan yang ada untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan mengakumulasi pendapatan dalam menggunakan total aktivanya. Apabila perusahaan tersebut mampu memanfaatkan aktivanya dengan saldo laba yang ada, maka perusahaan tersebut mampu mengendalikan modalnya tanpa perlu meminjam dari pihak luar (hutang). Hal ini disebabkan perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi mampu membiayai kegiatan usahanya dengan saldo laba yang dimilikinya, sehingga perusahaan tersebut akan menggunakan hutang dalam jumlah relatif sedikit. Perusahaan tersebut biasanya tergolong perusahaan yang sudah beroperasi cukup lama. Oleh karena itu, dengan adanya hal tersebut para investor yakin pada kinerja perusahaan yang baik dan kemudian mempertimbangkan menanamkan sahamnya di perusahaan tersebut sehingga harga saham kemungkinan akan terus meningkat dan apabila kinerja perusahaan semakin buruk dapat menyebabkan penurunan usaha atau kebangkrutan dan akan berpengaruh terhadap naik turunnya harga saham perusahaan tersebut. Penelitian ini telah dibuktikan oleh Handojo (2001) bahwa Retained earnings to total asset (RETA) berpengaruh signifikan baik secara parsial maupun simultan terhadap harga saham. Hasil penelitian lain menurut Fakhrurozie (2007), membuktikan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Z-Score Altman (RETA) berpengaruh terhadap harga saham sebesar 21,50 % sedangkan 78,50 % dipengaruhi faktor lain.










Related Posts

0 Response to "MAKALAH KEUANGAN : FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA SAHAM"

Post a Comment

Jika Postingan ini membantu kamu, ayo tinggalkan sedikit komentar agar Admin lebih bersemangat untuk terus menyediakan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi orang lain :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel