Makalah Manajemen Perbankan: Laporan dan Rasio Keuangan
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Setiap perusahaan, baik bank maupun nonban pada suatu waktu
(periode tertentu) akan melaporkan semua kegiatan keuangannya. Laporan keuangan
ini bertujuan memberikan informasi keuangan perusahaan, baik kepada pemilik,
mananjemen, maupun pihak luar yang berkempetingan terhadap laporn tersebut.
Laporan keuangan bank merupakan kondisi keuangna bank secara
keselurahan. Dari laporan ini akan terbaca bagaimana kondisi bank yang
sesungguhnya, termasuk kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Laporan ini juga
menunjukkan kinerja manajemen bank selama satu periode. keuangn dengan membaca
laporan keuangan ini pihak manajemen dapat memperbaikki kelemahan yang ada
serta mempertahankan kekuatan yang dimilikinya.
Dalam laporan keuangan termuat informasi mengenai jumlah
kekayaan (aseet) dan jenis-jenis kekayaan yang dimiliki (sisi aktiva). Kemudian
juga akan tergambar kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang srta ekuitas
(modal sendiri) yang dimilikinya. Informasi yang memuat seperti di atas
tergambar dalam laporan keuangan yang kita sebut neraca. Dalam melakukan
analisis terhadap laporan keuangan tersebut diperlukan beberapa tolak ukur.
Analisis yang biasa dipakai adalah rasio atau indeks yang merupakan
perbandingan di antara data-data keuangan. Analisis rasio keuangan merupakan
alat utama yang dapat digunakan dalam melakukan analisis terhadap laporan
keuangan.
Melalui analisis rasio dapat dihasilkan pengukuran dalam bentuk
rasio atau relatif dan bukan dalam angka yang absolut. Dengan demikian dapat
mempermudah dalam melihat perubahanperubahan yang terjadi, apakah menunjukkan
arah yang tetap, meningkat atau bahkan menurun. Faktor-faktor yang paling utama
untuk mendapatkan perhatian analisis adalah tingkat likuiditas, profitabilitas
atau rentabilitas, solvabilitas dan aktivitas. Likuiditas dapat menunjukkan
kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus
segera dipenuhi atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya
pada saat ditagih. Profitabilitas dapat menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan laba selama periode tertentu.
Solvabilitas dapat menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasikan, baik
kewajiban jangka pendek maupun kewajiban jangka panjang. Aktivitas dapat
mengukur sejauh mana efektivitas perusahaan dalam menggunakan sumber dayanya.
1.2 Rumusan masalah
·
Apa pengertian Laporan Keuangan dan
rasio keuangan ?
·
Siapa saja Pihak yang memiliki
kepntingan terhadap laporan keuangan?
·
Apa saja jenis – jenis laporan keuangan
dan Rasio keuangan?
1.3 Manfaat dan tujuan makalah
·
Mengetahui pengertian Laporan Keuangan
dan rasio keuangan
·
Untuk Mengetahui saja Pihak yang
memiliki kepntingan terhadap laporan keuangan
·
Ingin Mengetahui saja jenis – jenis
laporan keuangan dan Rasio keuangan
·
Dapat memberikan referensi dan
memperluasi lmu pengetahuan tentang ruang lingkup Laporan keuangan dan rasio
Keuangan, terutama di Bidang Manajemen Perbankkan dan dapat menerapkan ilmunya
dalam bidang Perbankkan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah catatan
informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat
digunakam untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Dalam PSAK No. 1
(2009) disebutkan bahwa tujuan laporan keuangan adalah suatu
penyajianterstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas.
·
Tujuan
Laporan Keuangan
Dalam PSAK No. 1 (2009) disebutkan bahwa
tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi
keuangan,kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi
sebagianbesar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan
ekonomi.Laporan keuangan menujukkan hasil pertanggungjawaban manajemen
ataspenggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalammencapai
tujuan tersebut, laporan keuangan menyajikan informasi entitasmengenai aset;
liabilitas; ekuitas; pendapatan dan beban termasukkeuntungan dan kerugian;
kontribusi dari dan distribusi kepada pemilikdan kapasitasnya sebagai pemilik;
dan arus kas.
·
Karakteristik
Laporan Keuangan
Laporan keuangan memiliki karakteristik
kualitatif yang membuatinformasi dalam laporan keuangan dapat berguna bagi
pemakai. Berikutadalah karakteristik tersebut menurut Kieso, Warfield, Weygant
(2011:44)
I.
Dapat dipahami (understandability)
Informasi
yang terkandung dalam laporan keuangan harus dapatdengan mudah dipahami oleh
pemakai.
II.
Relevansi (relevance)
Informasi
akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam sebuah keputusan. Jika tidak
mempengaruhi keputusan, maka informasi tersebut dikatakan tidak relevan
terhadap keputusan yang diambil. Informasi yang relevan akan membantu pemakai
membuat prediksi tentang hasil akhir dari kejadian masa lalu, kini, dan masa
depan, yaitu memiliki nilai prediktif (predictive value). Informasi yang
relevan juga membantu pemakai menjustifikasi atau mengoreksi ekspektasi atau
harapanmasa lalu; yaitu, memiliki nilai umpan balik (feedback value).Informasi
yang juga dikatakan relevan jika tersedia bagi pengambilan keputusan sebelum
informasi tersebut kehilangan kapasitas untuk mempengaruhi keputusan yang
diambil; yaitu memiliki ketepatan waktu
(timeliness).
III.
Reliabilitas (realibility)
Informasi
akuntansi dianggap handal jika dapat diverifikasi (veriability) Daya uji
(veriability) ditunjukkan ketika pengukur - pengukur independen, dengan
menggunakan metode pengukuran yang sama, mendapatkan hasil yang serupa.
v Disajikan
secara tepat (representational faithfulness) Ketepatan penyajian
(representational faithfulness) berarti bahwa angka –angka dan penjelasan dalam
laporan keuangan mewakili apa yang betul-betul ada dan terjadi.
v Bebas
dari kesalahan dan bias (neutrality) Netralitas (neutrality) berarti bahwa
informasi tidak dapat dipilih untuk kepentingan sekelompok pemakai tertentu.
Informasi yang disajikan harus faktual, benar, dan tidak biasa.
IV.
Komparabilitas
Informasi
dari berbagai perusahaan dipandang memiliki komparabilitas jika telah diukur
dan dilaporkan dengan cara yangsama. Informasi keuangan akan lebih berguna bagi
pemakainya apabila dapat diperbandingkan dengan informasi keuangan pada laporan
keuangan tahun sebelumnya dan laporan keuangan antar perusahaan.
V.
Konsistensi
Apabila
sebuah Identitas mengaplikasikan perlakuan akuntansi yangsama untuk
kejadian-kejadian yang serupa, dari periode ke periode,maka entitas tersebut
dianggap konsisten dalam menggunakanstandar akuntansi.
B.
Pihak
pihak yang terkait terhadap laporan keuangan
Tujuan
dari laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi
keuangan suatu perusahaan. Informasi tersebut bermanfaat bagi sejumlah besar
pemakai dari pengambil keputusan ekonomi. Laporan keuangan mempunyai arti yang
sangat penting bagi pihak yang membutuhkan atau berkepentingan. Pihak-pihak
yang membutuhkan antara lain: para pemilik perusahaan/pemegang saham, manajer
perusahaan yang bersangkutan, banker, kreditor, investor, pemerintah, mereka
yang menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi beberapa kebutuhan informasi
yang berbeda, beberapa kebutuhan ini adalah meliputi:
·
Pemilik
perusahaan
Para pemilik perusahaan akan berkepentingan terhadap laporan
keuangan perusahaan untuk dapat menilai sukses atau tidaknya manajer yang
diberi kepercayaan orang pemegang saham mengendalikan/memimpin perusahaannya.
·
Manajer
perusahaan
Manajer yang bersangkutan Laporan
keuangan bagi manajer berguna untuk
a. Mengukur biaya dan hasil
(pendapatan) yang telah dicapai periode yang lalu.
b. Menilai mengukur efisiensi dari
tiap-tiap bagian yang ada dalam perusahaan.
c. Menilai mengukur hasil kerja dari
tiap - tiap individu yang telah diserahi wewenang dan tanggung jawab.
d. Untuk menentukan perlu tidaknya
diadakan perubahan kebijakan atau prosedur yang baru sehmgga dapat dicapai
hasil yang lebih baik dan meningkat.
e. Untuk memberikan laporan pertanggung
jawaban pada pemilik perusahaan atas kepemimpinan selama ini.
·
Bank,
kreditor dan investor Bankir,
Kreditor maupun investor berkepentingan dengan laporan
keuangan itu, sebab dengan membaca laporan keuangan itu mereka dapat menentukan
prospek keuntungan perusahaan dimasa datang, mengetahui kondisi kerja pemimpin
perusahaan dan kondisi keuangan jangka pendek perusahaan tersebut.Jadi dengan
laporan keuangan ini para bankir, kreditor. ataupun investor dapat mengadakan
analisa apakah mereka akan terus mengadakan investasi, memberikan kredit bank
jangka pendek maupun jangka panjang ataukah menghentikannya sama sekali.
·
Pemerintah
Bagi pemerintah dimana perusahaan itu berdomisili sangat
berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan tersebut ternama untuk :
a. Kepentingan sehubungan dengan pajak
b. Kepentingan perencanaan pemerintah
untuk masa yang akan datang terutama yang menyangkut masalah tenaga kena dan
kebijakan lain yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi secara nasional.
·
Masyarakat Luas
Bagi
masyarakt luas laporan keuangn bank merupakan suatu jaminan terhadap uang yang
disimpan oleh bank. Jaminan ini diperoleh dari laporan – laporan keuangan yang
ada dengan angka – angka yang ada di laporan keuangan. Dengan ada nya laporan
keuangan pemilik dana dapat mengetahui kondisi bank yang bersangkutan sehingga
masih tetap mempercayakan dananya disimpan di bank yang bersangkutan apa tidak.
C. Jenis – Jenis Laporan Keuangan
Sama seperti lembaga lainnya, bank juga
memiliki beberapa jenis laporan keuangan yang di sajikan sesuai dengan SAK dan
SKAPI. Artinya laporan keuangan dibuat sesuia dengan standar yang telah
ditentukan. Dalam praktiknya jenis-jenis laporan keuangan bank yang dimaksud
adalah sebagai berikut :
·
Neraca
Neraca
merupakan laporan yang menunjukkan posisi keuangan bank pada tanggal tertentu.
Posisi keuangan dimaksudkan adalah posisi aktiva (Harta), Pasiva (Kewajiban dan
Ekuitas) suatu bank. Penyusunan komponen di dalam neraca didasarkan pada
tingkat likuiditas dan jatuh tempo.
·
Laporan Komitmen dan Kontinjensi
Laporan
komitmen merupakan suatu ikatan atau kontrak yang berupa janji yang tidak dapat
dibatalkan secara sepihak (Irrevo-cable) dan harus dilaksanakan apabila
persyaratan yang disepakati bersama dipenuhi. Contoh laporan komitmen adalah komitmen
kredit, komitmen penjualan atau pembelian aktiva bank dengan syarat Repurcbase
Agrement (Repo), sedangkan Laporan kontijensi merupakan tagihan atau kewajiban
bank yang kemungkinan timbulnya tergantung pada terjadi atau tidak terjadinya
satu atau lebih peristiwa di masa yang akan datang. Penyajian laporan komitmen
dan kontijensi disajikan tersediri tanpa pos lama.
·
Laporan laba rugi
Laporan
laba rugi merupakan laporan keuangan bank yang menggambarkan hasil usaha bank
dalam suatu periode tertentu. Dalam laporan ini tergambar jumlah pendapatan dan
sumber-sumber pendapatan serta jumlah biaya dan jenis-jenis biaya yang
dikeluarkan.
·
Laporan arus kas
Laporan
arus kas merupakan laporan yang menujukkan
semua aspek yang berkaitan dengan
kegiatan bank, baik yang berpengaruh langsung atau tidak langsung
terhadap kas. Laporan arus kas harus disusun berdasarkan konsep kas selama
periode laporan.
·
Catatan atas laporan keuangan
Catatan
atas laporan keuangan merupakan yang berisi catatan tersendiri mengenai osisi
Devisa Neto, menurut jenis mata uang dan aktivitas lainnya.
·
Laporan Keuangan Gabungan dan
Konsolidasi
Laporan
gabungan merupakan laporan dari seluruh cabang-cabang bank yang bersangkutan
baik yang ada di dalam negeri maupun di luarnegeri. Sedangkan Laporan
konsolidasi merupakan laporan bank yang bersangkutan dengan anak perusahaannya.
D.
Bentuk - Bentuk Laporan Keuangan
Bentuk
atau susunan Laporan Posisi Keuangan di antara perusahaan bermacam-macam,
tergantung pada tujuan pada neraca tersebut dibuat, Laporan keuangan yang disajikan setiap akhir periode
tersebut didasarkan pada Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang terdiri
atas laporan laba rugi, laporan
perubahan modal, neraca, dan laporan arus kas.
·
Laporan Laba/Rugi (Income Statement)
Laporan
laba/rugi adalah laporan yang menunjukkan pendapatan dan beban dari suatu
perusahaan dalam satu periode akuntansi. Laporan laba/rugi perusahaan disajikan
sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur kinerja keuangan yang
diperlukan bagi penyajian secara wajar. Yang menjadi pertanyaan adalah berapa
macam bentuk laporan laba rugi. Bentuk laporan laba/rugi yang lazim digunakan
ada dua, yaitu
·
Bentuk Langsung (Single Step)
Menurut bentuk ini, seluruh pendapatan
dijumlahkan dan semua beban dijumlahkan. Dari selisih jumlah pendapatan dengan
jumlah beban dapat diketahui besarnya laba atau rugi usaha. Contoh, data dari
persamaan akuntansi service speda motor Tunggal
SERVIC SEPEDA MOTOR
TUNGGAL
LAPORAN LABA RUGI
Periode 31 Des 2014
|
||
Pendapatan
jasa service
|
3.850.000,00
|
|
Beban
Usaha;
|
||
Beban
sewa ruangan
|
60.000,00
|
|
Beban listrik dan air
|
200.000,00
|
|
Beban gaji
|
300.000,00
|
|
Beban telepon
|
75.000,00
|
|
Beban perlengkapan
|
150.000,00
|
|
Beban penyusutan peralatan
|
50.000,00
|
|
Jumlah beban usaha
|
(835.000,00)
|
|
Laba bersih
|
3.015.000,00
|
·
Bentuk Bertahap (Multiple Step)
|
·
Laporan Perubahan Modal (Capital Statement)
Laporan perubahan modal
adalah laporan yang menunjukkan sebab-sebab adanya perubahan modal, dari modal
awal sampai dengan modal akhir periode. Dalam laporan perubahan modal
ditunjukkan dengan perhitungan antara modal pemilik awal periode ditambah laba
bersih seperti yang tercantum dalam laporan laba/rugi, kemudian dikurangi
dengan pengambilan pribadi pemilik (prive), sehingga diperoleh modal pemilik
akhir periode. Berdasarkan data persamaan akuntansi service sepeda motor
tunggal maka dapat disusun laporan perubahan modal sebagai berikut :
|
·
Neraca (Balance Sheet)
Neraca adalah laporan yang menunjukkan
keadaan keuangan atau posisi keuangan suatu perusahaan pada akhir periode.
Posisi keuangan yang dimaksud terdiri atas jumlah aktiva, kewajiban, dan modal.
Dalam penyusunan neraca harus diurutkan sesuai dengan tingkat likuiditasnya
atau tingkat kelancarannya. Rekening yang lancar harus didahulukan
penyusunannya dan rekening yang kurang lancar disusun di bawahnya. Neraca dapat
disusun dengan dua bentuk, yaitu bentuk stafel dan bentuk skontro.
a. Bentuk
Laporan (Stafel)
Neraca yang disusun dalam bentuk stafel
artinya neraca disajikan dengan harta atau aktiva di bagian atas dan kewajiban
serta modal di bagian bawahnya. Neraca bentuk stafel sering disebut juga bentuk
laporan/ vertikal.
|
·
Bentuk T (Skontro) atau Bentuk Rekening
Neraca yang disusun dalam bentuk T artinya
penyajian harta atau aktiva di sebelah kiri, sedangkan kewajiban dan modal di
sebelah kanan. Neraca bentuk skontro sering disebut juga bentuk sebelah
menyebelah.
|
·
Laporan Arus Kas (Statement of Cash
Flows)
Laporan
arus kas adalah laporan yang menunjukkan arus masuk dan arus keluar tentang kas
dan setara dengan kas. Kas merupakan uang tunai atau saldo kas dan rekening
giro, sedangkan setara kas erupakan investasi yang sifatnya sangat likuid,
berjangka pendek yang dengan cepat dapat dijadikan kas. Laporan arus kas harus
melaporkan arus kas selama periode tertentu dapat diklasifikasikan menurut
aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan, dengan disesuaikan bisnis
perusahaan tersebut. Pengklasifikasian menurut aktivitas bertujuan memberikan
informasi yang memungkinkan para pengguna laporan untuk menilai pengaruh
aktivitas tersebut terhadap posisi keuangan perusahaan serta terhadap jumlah
kas dan setara dengan kas.
1) Arus
Kas dari Aktivitas Operasi
Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari pendapatan perusahaan. Oleh karena itu arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang memengaruhi penetapan laba atau rugi bersih. Arus kas dari aktivitas operasi meliputi:
Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari pendapatan perusahaan. Oleh karena itu arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang memengaruhi penetapan laba atau rugi bersih. Arus kas dari aktivitas operasi meliputi:
·
penerimaan kas dari penjualan barang
atau jasa,
·
penerimaan kas dari royalti, fee, komisi,
dan pendapatan lain,
·
pembayaran kas kepada pemasok barang
atau jasa,
·
pembayaran kepada karyawan
·
penerimaan dan pembayaran kas oleh perusahaan
asuransi sehubungan dengan premi, klaim, anuitas dan manfaat asuransi lainnya,
·
pembayaran kas atau penerimaan kembali
(restitusi) pajak penghasilan kecuali jika dapat diidentifikasikan secara
khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi,
·
penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak
yang diadakan untuk tujuan transaksi usaha dan perdagangan.
2) Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Arus kas dari aktivitas
investasi mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber
daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan. Arus
kas dari aktivitas investasi meliputi :
·
pembayaran kas untuk membeli aktiva
tetap, aktiva tak berwujud, dan aktiva jangka panjang lain, termasuk biaya
pengembangan yang dikapitalisasi dan aktiva tetap yang dibangun sendiri,
·
penerimaan kas dari penjualan tanah, bangunan,
peralatan, aktiva tak berwujud, dan aktiva jangka panjang lain,
·
perolehan saham atau instrumen keuangan
perusahaan lain,
·
uang muka dari pinjaman yang diberikan
kepada pihak lain serta pelunasannya (kecuali yang dilakukan oleh lembaga
keuangan),
·
pembayaran kas sehubungan dengan futures
contracts, forward contracts, option contracts, dan swap contracts kecuali
apabila kontrak tersebut dilakukan untuk tujuan perdagangan (dealing or
trading), atau apabila pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas
pendanaan.
3) Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Pengungkapan terpisah
arus kas yang timbul dari aktivitas pendanaan perlu dilakukan sebab berguna
untuk memprediksi klain terhadap arus kas masa depan oleh para pemasok modal
perusahaan. Arus kas dari aktivitas pendanaan meliputi:
·
penerimaan kas dari emisi saham atau
instrumen modal lainnya,
·
pembayaran kas kepada para pemegang
saham untuk menarik atau menebus saham perusahaan,
·
penerimaan kas dari emisi obligasi,
pinjaman, wesel, hipotik, dan pinjaman lainnya,
·
pelunasan pinjaman,
·
pembayaran kas oleh penyewa guna usaha
(lessee) untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan dengan sewa guna usaha
pembiayaan (finance lease).
E.
Modal
Bank
Sebagaimana perusahaan lainnya, bank
juga memiliki modal yang dapat digunakan untuk berbagai hal. Hanya saja dalam
berbagai hal (seperti modal pelengkap), modal yang dmilikioleh bank sedikit
berbeda dengan yang dimiliki perusahaan lainnya. Dalam praktiknya, modal
terdiri dari dua macam, yaitu modal inti dan modal pelengkap. Modal inti
merupakan modal sendiri yang tertera dalam posisi ekuitas, sedangkan modal
pelengkap merupakan modal pinjaman dan cadangan revaluasi aktiva serta cadangan
penyisihan penghapusan aktiva produktif. Rincian masing-masing komponen dari
modal bank-bank di atas adalah sebagai berikut:
1. Modal
inti terdiri dari:
a. Modal
disetor
Merupakan modal yang
telah disetor oleh pemilik bank sesuai dengan peraturan yang berlaku.
b. Agio
saham
Merupakan kelebihan
harga saham atas nilai nominal saham yang bersangkutan.
c. Modal
sumbangan
Merupakan modal yang diperoleh
kembali dari sumbangan saham, termasuk modal dari donasi dari luar bank.
d. Cadangan
umum
Merupakan cadangan yang
diperoleh dari penyisihan laba yang ditahan atau laba bersih setelah dikurangi
pajak.
e. Cadangan
tujuan
Merupakan bagian laba
setelah dikurangi pajak yang telah disisihkan untuk tujuan tertentu.
f. Laba
ditahan
Merupakan saldo laba
bersih setelah diperhitungkan pajak dan telah diputuskan RUPS untuk tidak
dibagikan.
g. Laba
tahun lalu
Merupakan seluruh laba
bersih tahun lalu setelah diperhitungkan pajak
h. Rugi
tahun lalu
Merupakan kerugian yang
telah diderita pada tahun lalu.
i.
Laba tahun berjalan
Merupakan laba yang
telah diperoleh dalam tahun buku berjalan setelah dikurangi taksiran utang
pajak.
j.
Rugi tahun berjalan
Merupakan rugi yang
telah diderita dalam tahun buku yang sedang berjalan.
2. Modal
pelengkap terdiri dari :
a. Cadangan
revaluasi aktiva tetap
Merupakan cadangan yang
dibentuk dari selisih penilaian kembali dari aktiva tetap yang dimiliki bank.
b. Penyisihan
penghapusan aktiva produktif
Merupakan cadangan yang
dibentuk dengan cara membeban kan laba rugi tahun berjalan dengan maksud untuk
menampung kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat tidak diterima seluruh
atau sebagian aktiva produktif (maksimum 1,25% dari ATMR ).
c. Modal
pinjaman
Merupakan pinjaman yang
didukung oleh warkat - warkat yang memiliki sifat seperti modal (maksimum 50%
darijumlah modal inti).
d. Pinjaman
subordinasi
Merupakan pinjaman yang
telah memenuh isyarat seperti ada perjanjian tertulis antara bank dengan
pemberi pinjaman, memperoleh persetujuan BI dan tidak dijamin oleh bank yang
bersangkutan dan perjanjian lainnya.
·
Ketentuan tentang modal minimum Bank
Presentase
kebutuhan modal minimum yang diwajibkan menurut BI ini disebut Capiatal
Adequacy Ratio (CAR) sebesar 8%. Penghitungan Kebutuhan Modal Minimum langkah-langkah
perhitungan penyediaan modal minimum bank adalah sebagai berikut:
1. ATMR aktiva neraca dihitung
dengan cara mengalikan nilai nominal masing-masing aktiva yang bersangkutan
dengan bobot resiko dari masing-masing pos aktiva neraca tersebut.
2. ATMR aktiva
administrafive dihitung dengan cara mengalikan nilai nominal rekening
administrative yang bersangkutan dengan bobot resiko dari masing-masing pos
rekening tersebut.
3. Total ATMR = ATMR
aktiva neraca + ATMR aktiva administrative
4. Rasio modal bank
dihitung dengan cara membendingkan antara modal bank (modal inti + modal pelengkap) dan total
ATM. Rasio tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut : CAR = Modal Bank
Total
ATMR
5. Hasil perhitungan
rasio di atas, kemudian dibandingkan dengan kewajiban penyediaan modal minimum
(yakni sebesar 8%)
6. Jika hasil
perbandingan antara perhitungan rasio modal dan kewajiban penyediaan modal
minimum sama dengan 100%, atau lebih, modal bank yang bersangkutan telah
memenuhi ketentuan CAR
F. ANALISIS
CAMEL
Sebagimana layaknya
manusia, bank sebagai perusahaan perlu juga dinilai kesehatannya. Tujuannya
adalah untuk mengetahui kondisi bank tersebut yang sesungguhnya apakah dalam
keadaan sehat, kurang sehat atau mungkin sakit. Apabila ternyata kondisi bank
tersebut dalam kondisis sehat, maka ini perlu dipertahanakan kesehatannya. Akan
tetapi jika kondisisnya dalam keadaan tidak sehat maka segera perlu diambil
tindakan untuk mengobatinya. Dari penilaian kesehatan bank ini pada akhirnya
akan ketahuan kinerja bank tgersebut.
Kinerja bank ini
merupakan ukuran keberhasilan bagi direksi bank tersebut, sehingga apabila
kinerja ini buruk bukan tidak mungkin para direksi ini akan diganti. Kinerja
ini juga merupakan pedoman hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki dan bagaimana
cara memperbaikinya.
Untuk menilai kesehatan
suatu bank dapat diukur dengan berbagai metode. Penilain kesehatan akan
berpengaruh terhadap kemampuan bank dan loyalitas nasabah terhadap bank yang
bersangkutan. Salah satu alat untuk mengukur kesehatan bank adalah dengan
analisis CAMEL. Unsur-unsur penilaian dalam analisis camel adalah sebagai
berikut :
·
Capital (Permodalan)
Penilaian didasarkan kepada permodalan yang dimiliki
oleh salah satu bank. Salah satu penilain adalah dengan metode CAR (capital adequacy rasio) yaitu dengan
dengan cara membandingkan modal terhadap aktiva tertimbang menurut resiko
(ATMR).
·
Assets (Kualitas
aset)
Penilaian didasarkan kepada kualitas aktiva yang
dimiliki bank. Rasio yang diukur ada dua macam yaitu :
a.
Rasio aktiva
produktif yang diklasifikasikan terhadap aktiva produktif.
b.
Rasio penyisihan
penghapusan aktiva produktif terhadap aktiva produktif yag diklasifikasikan.
·
Management
(Manajemen)
Penilaian didasarkan pada manajemen permodalan,
manajemen aktiva, manajemen rentabilitas, manajemen likuiditas dan manajemen
umum. Manajemen bank dinilai atas dasar 250 pertanyaan yang diajukan.
·
Earning
(Rentabilitas)
Penilaian didasarkan kepada rentabilitas suatu bank
yang dilihat kemampuan suatu bank dalam menciptakan laba. Penilaian dalam unsur
ini didasarkan kepada dua macam yaitu :
a.
Rasio laba
terdapat total asset (Return on Assets)
b.
Rasio Beban Operasional
tehadap Pendapatan Operasional (BOPO).
·
Liquidity
(Likuiditas)
Yaitu untuk menilai likuiditas bank. Penilai
likuiditas didasarkan kepada 2 macam rasio yaitu :
a.
Rasio jumlah
kewajiban bersih Call money terhadap
aktivitas lancar. Yang termasuk aktiva lancar adalah Kas, GIro dan BI,
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) yang sudah
diendos oleh bank lain.
b.
Rasio antara
kredit terhadap dana yang diterima oleh bank.
Kemudian
ketentuan lain yang akan mempengaruhi tingkat kesehatan bank adalah:
a.
Pelaksaan
pemberian kredit usaha kecil (KUK) harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
b.
Pelaksanaan
pemberian kredit ekspor sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
c.
Pelanggaran
terhadap ketentuan Batas Maksimum Pemberian
Kredit (BMPK).
d.
Pelanggaran
terhadap Posisi Devisa Netto (PDN).
Hasil penilaian kesehatan bank dilakukan secara
kuantitatif. Selanjutnya peringkat tingkat kesehatan bank digolongkan sebagai
beerikut :
Nilai kredit
|
Predikat
|
81-100
66-80
51-67
0-<51
|
Sehat
Cukup sehat
Kurang sehat
Tidak sehat
|
G.
Pengertian
dan Jenis – jenis Rasio Keuangan
Untuk
mengetahui kondisi keuangan suatu bank, makadapat dilihat laporan keuangan yang
disajikan oleh suatu bank secara periodik. Laporan ini juga sekaligus
menggambarkan kinerja bank selama periode tersebut. Laporan ini sangat berguna
terutama bagi pemilik, manajemen, pemerintah dan masyarakat sebagai nasabah
bank, guna mngetahui kondisi bank tersebut.
Setiap
laporan yang disajikan harus lah dibuat sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Agar laporan ini dapat dibaca sehingga menjadi bearti, maka perlu
dilakukan analisa terlebih dahulu. Analisis yang digunakan adalah dengan
menggunakan rasio - rasio keuangan sesuai dengan standar yang berlaku. Adapun Jenis-Jenis Rasio Keuangan Bank adalah
sebagai berikut :
·
Rasio Likuiditas
Rasio ini
bertujuan untuk mengukur seberapa likuid suatu bank. Dalam rasio ini terdiri
dari beberapa jenis rasio, yaitu :
1. Quick
Ratio
|
2. Investing
Policy Ratio
Merupakan kemampuan
bank dalam melunasi kewajibannya kepada deposannya dengan cara melikuidasi
surat – surat berharga yang dimilikinya. rumus untuk mencari investing Policy
Ratio sebagai berikut :
Investing Policy Ratio
=
x
100%
3. Banking
Ratio
Banking ratio brtujuan
mengukur tingkat likuiditas bank dengan membandingkan jumlah kredit yang
disalurkan dengan jumlah deposit yang dimiliki. Semakin tinggi rasio ini, maka
tingkat likuiditas bank semakin rendah tingkat likuiditas bank, karena jumlah dana
yang digunakan untuk membiayai kredit semakin kecil, demikian pula sebaliknya.
Banking Ratio =
x
100 %
4. Assets
to Loan Ratio
merupakan rasio untuk
mengukur jumlah kredit yang disalurkan dengan jumlah harta yang dimiliki bank.
Semakin tinggi rasio, menunjukan semakin
rendahnya tingkat likuiditas bank.
Assets to Loan Ratio =
5. Invesment
Portofolio Ratio
Merupakan rasio untuk
mengukur tingkat likuiditas dalam investasi pasa surat – surat berharga. untuk
menghitung rasio ini, perlu diketahui dahulu security yang jatuh waktunya
kurang dari satu tahun, yang digunakan untuk menjamin deposito nasabah
6. Cash
Ratio
Merupakan rasio untuk
mengukur kemampuan bank melunasi kewajiban yang harus segerandibayar dengan
harta likuid yang dimiliki bank tersebut.
Cash ratio =
7. Loan
to Deposit Ratio (LDR)
Merupakan rasio untuk
mengukur komposisi jumlah kredit yang diberikan dibandingkan dengan jumlah dana
masyarakat dan modal sendiri yang digunakan.
Loan to Deposit Ratio =
·
Rasio Solvabilitas
Biasanya penggunaan rasio
solvabilitas atau leverage disesuaikan dengan tujuan perusahaan. Artinya
perusahaan dapat menggunakan rasio leverage secara keseluruhan atau sebagian
dari masing-masing jenis rasio solvabilitas yang ada. Penggunaan rasio secara keseluruhan,
artinya seluruh jenis rasio yang dimiliki perusahaan, sedangkan sebagian
artinya perusahaan hanya menggunakan beberapa jenis rasio yang dianggap perlu
untuk diketahui. Ada pun jenis-jenis rasio yang ada dalam rasio solvabilitas
antara lain :
1. Primary ratio
Merupakan
rasio untuk mengukur apakah permodlan yang dimilki sudah memadai atau sejauh
mana penurunan yang terjadi dalam total asset masuk dapat ditutupin oleh
capital equity.
Primary
ratio =
2. Risk Assets Ratio
merupakan
rasio untuk mengukur kemugkinan penurunan risk assets. Rumus untuk mencari Risk
Assets Ratio sebagai berikut :
Risk
Assets Ratio =
3. Secondary Risk Ratio
Merupakan
rasio mengukur penurunan aset yang mempunyai resiko lebih tinggi.
Secondary
Risk Ratio =
4.
Capital Ratio
Merupakan rasio untuk mengukur
permodalan dan cadangan penghapusan dalam menanggung perkreditan, terutama
risiko yang terjadi karena bunga gagal ditagih.
Capital Ratio =
5. Secondary Risk Ratio
Merupakan
rasio mengukur penurunan aset yang mempunyai resiko lebih tinggi.
Secondary
Risk Ratio =
6.
Capital Adequacy Ratio
Untuk mencari rasio ini
perlu erlebih dahulu untuk mengetahui besarnya estimasi risiko yang akan
terjadi dalam pemberian kredit dan risiko yang akan terjadi dalam perdaganagn
surat – surat berharga
CAR
2 =
CAR
3 =
·
Rasio Rentabilitas
Rentabilitas rasio sering disebut
profitabilitas usaha. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi
usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan. Rentabilitas
rasio terdiri dari:
1.
Gross
Profit Margin
Rasio ini digunakan
untuk mengetahui presentasi laba dari kegiatan usaha murni dari bank yang
bersangkutan setelah dikurangi biaya-biaya. Rumusnya sebagai berikut:
Gross Profit Margin=
Operating Income – Operating Expense / Operating Income x 100%
2.
Net
Profit Margin
Net Profit Margin
merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan net income
dari kegiatan operasi pokoknya. Rumusnya
sebagai berikut:
Net Profit Margin = Net Income / Operating Income x
100%
3.
Return
on Equity Capital atau ROE
Return on Equity
Capital merupakan rasio untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola capital yang ada untuk
mendapatkan net income. Rumusnya sebagai berikut:
Return on Equity Capital = Net Income / Equity
Capital x 100%
4.
Return
On Total Assets (ROI) /Return on Investment
a.
Gross
Yield on Total Assets
Untuk mengukur
kemampuan manajemen menghasilkan income dari pengelolalan aset. Rumusnya
sebagai berikut:
Gross
Yield on Total Assets = Operating Income / Total Assets x 100%
b.
Net
Income Total Assets
Untuk mengukur
kemampuan manajemen dalam memperoleh profitabilitas dan manajeril efisiensi
secara overal. Rumusnya sebagai berikut:
Net
Income Total Assets = Net Income / Total Assets x 100%
5.
Rate
Return on Loans
Analisis ini digunakan
untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola kegiatan pengkreditannya.
Rumusnya sebagai berikut:
Rate Return on Loans = Interest Income / Total Loans
x 100%
6.
Interest
Margin on Earning Assets
Interest Mar gin on Earning Assets merupakan rasio untuk
mengukur kemampuan manajemen dalam mengendalikan biaya-biaya. Rumusnya sebagai
berikut:
Interest Margin on
Earning Assets = Interest Income – Interest Expense / Earning Assets x 100%
7.
Interest
Margin on Loans
Setelah mencari Interest Margin on Earning Assets, kita juga
dapat mencari Interest margin on Loans dengan cara sebagai berikut:
Interest Margin on Loans = Interest Income –
Interest Expense / Total Loans x 100%
8.
Leverage
Multiplier
Laverage Multiplier
merupakan alat untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola asetnya,
karena adanya biaya yang harus dikeluarkan akibat penggunaan aktiva. Rumusnya
sebagai berikut:
Leverage Multiplier = Total Assets / Total Equity
9.
Assets
Utilization
Rasio ini digunakan
untuk mengetahui sejauh mana kemampuan manajemen suatu bank dalam mengelola
asset dalam rangka menghasilkan operating
income dan nonoperating income.
Rumusnya sebagai berikut
Assets Utilization = Operating Income + Non
Operating Income / Total Assets x 100%
10. Interest Expence Ratio
Interest Expence Ratio
digunakan untuk mengukur besarnya persentase antara bunga yang dibayar kepada
para deposannya dengan total deposit yang ada di bank. Rumusnya sebagai
berikut:
Interest Expence Ratio = Interest Expense / Total
Deposit x 100%
11. Cost of Fund
Cost of Fund merupakan
rasio untuk mengukur besarnya biaya yang
dikeluarkan untuk sejumlah deposit yang ada di bank tersebut. Rumusnya sebagai
berikut:
Cost of Fund = Interest Expense / Total Deposit x
100%
12. Cost of Money
Untuk mencari besarnya
Cost of Money dapat menggunakan rumus
sebagai berikut:
Cost of Money = Biaya Dana + Biaya Overhead / Total
Dana x 100%
13. Cost of Leonable Fund
Rumus untuk mencari
Cost of Loanable Fund sebagai berikut:
Cost of Leonable Fund = Biaya Dana / Total Dana –
Unloanable Fund x 100%
14. Cost of Operable Fund
Jika diasumsikan tidak
ada idle fund, maka kita dapat menghitung Cost of Operable Fund dengan cara
sebagai berikut:
Cost of Operable Fund =
Biaya Dana + Biaya Overhead / Total Dana – Unloanable Fund x 100%
15. Cost of Efficiency
Cost of Efficiency
digunakan untuk mengukur efisiensi usaha yang dilakukan oleh bank. Atau untuk
mengukur besarnya biaya bank yang digunakan untuk memperoleh earning asset.
Rumus untuk mencari Cost of Efficiency sebagai berikut:
Cost of Efficiency = Total expense / Total Earning
assets x 100%
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan
suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakam untuk
menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Dalam PSAK No. 1 (2009) disebutkan
bahwa tujuan laporan keuangan adalah suatu penyajianterstruktur dari posisi
keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas.
Tujuan
dari laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi
keuangan suatu perusahaan. Informasi tersebut bermanfaat bagi sejumlah besar
pemakai dari pengambil keputusan ekonomi. Laporan keuangan mempunyai arti yang
sangat penting bagi pihak yang membutuhkan atau berkepentingan. Pihak-pihak
yang membutuhkan antara lain: para pemilik perusahaan/pemegang saham, manajer
perusahaan yang bersangkutan, banker, kreditor, investor, pemerintah.
Bentuk
atau susunan Laporan Posisi Keuangan di antara perusahaan bermacam-macam,
tergantung pada tujuan pada neraca tersebut dibuat, Laporan keuangan yang disajikan setiap akhir periode
tersebut didasarkan pada Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang terdiri
atas laporan laba rugi, laporan
perubahan modal, neraca, dan laporan arus kas.
Setiap laporan yang disajikan harus lah dibuat
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Agar laporan ini dapat dibaca
sehingga menjadi bearti, maka perlu dilakukan analisa terlebih dahulu. Analisis
yang digunakan adalah dengan menggunakan rasio - rasio keuangan sesuai dengan
standar yang berlaku. Adapun Jenis-Jenis
Rasio Keuangan Bank adalah sebagai berikut :
1. RasioLikuiditas
Rasio ini bertujuan untuk mengukur seberapa likuid
suatu bank. Dalam rasio ini terdiri dari beberapa jenis rasio, yaitu :
·
Quick Ratio
·
Investing Policy Ratio
·
Banking Ratio
·
Assets to Loan Ratio
·
InvesmentPortofolio Rati
·
Cash Ratio
·
Loan to Deposit Ratio (LDR)
2. Rasio
Solvabilitas
Rasio ini bertujuan mengukurefisiensi bank dalam
menjalankan aktivitasnya. Dalam rasio ini terdiri dari beberapa jenis, yaitu :
·
Primary Ratio
·
Risk Assets Ratio
·
Secondary Risk Ratio
·
Capital Rati
·
Capital Risk
·
Capital Adequacy Ratio
3. RasioRentabilitas
Rasio ini bertujuan mengukur efektivitas bank dalam
mencapai tujuannya. Dalam rasio ini terdiri dari beberapa jenis, yaitu :
·
Gross Profit Margin
·
Net Profit Margin
·
Return on Equity Capital
·
Gross Yeild on Total Assets
·
Gross Profit Margin on Total Assets
·
Net Income on Total Asset
·
Rate Return on Loan
·
Interest Margin on Earning Assets
·
Interest Margin on Loans
·
Leverage Multipli
·
Assets Utilization
·
Interest Expense Rati
·
Cost of Pund
·
0 Response to "Makalah Manajemen Perbankan: Laporan dan Rasio Keuangan"
Post a Comment
Jika Postingan ini membantu kamu, ayo tinggalkan sedikit komentar agar Admin lebih bersemangat untuk terus menyediakan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi orang lain :)